Senin, 26 September 2011
Ikhlas
ketika pertama kita berjumpa lagi di suatu tempat,
tak ada yang berubah dari dirimu, tetap seperti dulu.
hinggga suatu saat kau terlihat lemah tak berdaya,
karna kekasihmu telah pergi meninggalkanmu begitu saja.
kau tumpahkan segala keluh kesah,
hinggak tak terasa air matamu mengalir begitu hebatnya.
entah krna rasa sayang ataupun ingin menolong,
dengan ...
tak ada yang berubah dari dirimu, tetap seperti dulu.
hinggga suatu saat kau terlihat lemah tak berdaya,
karna kekasihmu telah pergi meninggalkanmu begitu saja.
kau tumpahkan segala keluh kesah,
hinggak tak terasa air matamu mengalir begitu hebatnya.
entah krna rasa sayang ataupun ingin menolong,
dengan ...
Cerita Berharga 3 tahun lalu
Mimpi untuk menemukan sahabat sejati dan perkenalan singkat yang mengantarkanmu padaku. Foto-foto dan rangkaian biodata yang menceritakan tentang cinta, hobi dan pengalaman hidup. Senyuman yang hampir setiap pagi kulihat saat aku bertemu denganmu di bus kota. Tentunya dengan seragam sekolah kita yang berbeda.
Perasaan yang tak bisa diungkapkan, sehingga menerima hati yang lain. Namun hati masih sering bermimpi untuk terus bersama sahabat yang didambakan.
Ombak pantai Popoh yang mengantarkan kepiting-kepiting kecil sampai daratan lalu bersembunyi di balik lubang-lubang karang, desah angin yang membelai langkah-langkah kita dan cerita singkat yang terucap serta pelukan pertama yang kau berikan sebelum kita kembali pulang, mengakhiri kesenangan kita hari itu.
Kita mencoba merangkai cerita yang menyenangkan lagi lain hari.
Di atas riak air sungai, di bawah pohon akasia yang memekarkan bunga-bunga berwarna kuning menyala. Duduk berdua seperti orang tak punya kerjaan, tertawa dan bercerita bersama. Satu buah apel menjadi cemilan kita, satu buah apel yang kita gigit bergantian. Tak lupa mengabadikan saat-saat menyenangkan itu dengan berfoto berdua. Memory hand phone-mu pun penuh dengan foto-foto kita di tempat yang menyenangkan itu. Karena tempat itu bagi kita sangat menyenangkan, kita sampai menganggap bahwa itu adalah tempat milik kita berdua, dan siapapun orang yang datang atau lewat di tempat itu maka dia menyewanya dari kita. Pemikiran yang sangat lucu ya? Kau juga menuliskan nama kita di tempat itu.
Di sanalah tempat kita biasa datang berdua, bermain dan menjadi sahabat seutuhnya.
Saat itu aku merasa menemukan harta karun yang selama ini kucari.
Sahabat sejati.
Dan itu adalah kamu.
Dan karena aku telah menemukan sahabat yang selama ini kuinginkan,
aku bertekad, aku juga akan menjadi sahabat sejati untukmu. Aku akan
selalu bersamamu dan menemanimu.
Tapi, aku merasa hanya bisa bersamamu dalam waktu yang tak lama. Kita jarang bertemu, dan jarang sekali bisa bermain. Kau sudah punya pacar yang selalu di dekatmu, kau dikelilingi teman-teman yang menyayangimu dan terlihat jauh denganku, kau tidak kesepian sepertiku.
Sehingga, aku pun akhirnya hanya akan menjadi teman biasa bagimu.
Tapi tak apa. Bagiku kau tetap sahabatku.
Angin membelai hatiku…
Mengantarkan sebuah perasaan yang sangat mendamaikan. Perasaan yang akan menjadi indah saat kau ada di sampingku, perasaan yang menjadi hangat saat kau menanyakan kabarku, perasaan yang menjadi hebat saat kau mengatakan membutuhkanku dan merindukanku, serta perasaan yang perlahan menciptakan mimpi-mimpi di dalam anganku.
Aku menginginkanmu, teman…
Siang itu,
Aku ingin mengucapkan salam perpisahan untuk Ervan, setelah beberapa hari lalu aku sempat mengatakan ingin berpisah selamanya. Bagaimanapun Ervan tidak menginginkan perpisahan ini, aku tetap tidak bisa bersamanya. Aku pasti sangat menyakitinya…
Tapi… perasaan yang dulu pernah kukatakan padanya sebagai CINTA itu kini memudar. Pudar, bagai kumpulan awan yang dihempas angin bulan Oktober yang saat itu mulai mengantarkan musim hujan.
Entah, apa yang kufikirkan. Aku hanya merasakan ketenangan setelah hatiku kosong, tak ada seseorang atau cinta yang mengisi dan membebaninya. Seolah aku bebas dan bisa berjalan ke mana pun aku ingin.
Kebahagiaan dan ketenangan ini bertambah indah saat keajaiban Tuhan memberikanku waktu untuk bertemu denganmu dan pergi bermain berdua lagi. Bermain ke tempat kita. Di atas riak air sungai, di bawah pohon akasia yang memekarkan bunga-bunga berwarna kuning menyala. Dan rangkaian cerita sehari-hari menjadi isi pembicaraan kita. Sering pula kita berbicara tentang cinta, impian, keajaiban dan hal yang lucu lainnya.
Tapi SMS dari teman-temanmu yang lain yang juga sangat memperhatikanmu dan SMS dari Desti, pacarmu, kadang menghentikan cerita kita. Meski hanya sejenak, tapi… aku yang saat itu duduk di dekatmu merasakan sedikit kehampaan. Hampa, seperti desiran angin yang berhembus entah ke mana.
Namun, sikapmu yang mengacuhkan SMS itu dan tetap melanjutkan cerita kita, serta tingkah anehmu saat berdekatan denganku, membuatku terpesona dan semakin suka berada di dekatmu. Aku suka melihat tanganmu yang bergetar saat hendak mengenggam tanganku. Aku suka kau menggandengku saat kita berjalan menyusuri sungai berbatu itu. Aku suka kau mau mengantarku pulang. Aku suka kau mau mengajakku bermain lain kali. Aku suka, aku suka, aku suka bersamamu. Aku suka padamu.
Dan perlahan senja beranjak di antara lelah dan bahagiaku.
Ingin kubawa kesenangan ini hingga kuterlelap dalam khayalku malam nanti.
Saat kutersadar bahwa aku menemukan kebahagiaanku darimu. Ingin kumenjaganya.
Cerita berharga masih terdengar begitu indah, mengalun di sela-sela awan yang berarak, mengikuti arah angin dan terbang membawa mimpi.
Luka di hati yang lain atas kedekatan kita, cemburu di hati dia dan dia atas perasaan kita, dan akhirnya mengoyak kebersamaan kita. Karena tak ingin merusak persahabatan kau dan Ervan, tak ingin melukai pacarmu, Desti, tak ingin semua hancur hanya karena perasaan bodoh kita, akhirnya kita memilih berpisah.
Sendu dan syahdu awan yang pekat di malam kelam, menemani hatiku yang bersedih, menemani hatimu yang menangis. Namun, ini yang terbaik, kita berpisah.
Kubayangkan kesedihan di hari nanti, tak ada SMS dan telephone darimu, tak ada kabur dari kenyataan dan bermain berdua, tak ada cerita-cerita lucu yang kudengar saat bersamamu, tak ada temanku bertukar foto dan biodata, tak ada keindahan di tempat kita, tak ada kamu yang mengisi hari-hariku. Apa aku sanggup? Sanggup berpisah dengan sahabat sepertimu… Sahabat yang sangat kusayangi…
Entah dari mana dan sejak kapan datangnya perasaan ini, begitu aku terlelap dalam khayalku bayangan bersamamulah yang tergambar. Meski tak begitu kupahami namun aku pun merasakan, mungkin aku telah jatuh cinta.
Mencintaimu…
Derai malam pun turun begitu pekat.
Derai air mataku mengalir membasuh hati. Mengingat kau tak lagi bersamaku.
Cinta putih yang kau berikan namun tak sempat kau ucapkan, mengisi penyesalanku, mengapa kau tak lebih cepat datang dalam kehidupanku, sehingga aku tak perlu sempat menjalani hubungan dengan Ervan. Mengapa kau menerima Desti sebagai pacarmu tanpa bertanya padaku apakah aku setuju. Mengapa kau tak pernah bertanya, apa aku menyukaimu.
Padahal perasaan itu begitu jelas bagi kita, tapi seolah terkubur dalam.
Dikubur dalam-dalam oleh takdir yang seolah memainkan kita dalam lingkaran perasaan yang tak menentu.
Kudengar suaramu yang menelphoneku malam itu. Aku berfikir, mungkinkah ini yang terakhir aku mendengar suaramu. Teman, saat itu kau mengatakan, “ Aku tak sanggup, aku tak bisa berpisah darimu. Aku cinta kamu, Gris. Belum pernah aku jatuh cinta sampai seperti ini. Dari dulu, sejak aku mengenalmu aku sudah menyukaimu…”
Dan dengan berat hati, aku hanya mengatakan, “ Tapi kita tidak boleh menyakiti orang lain. Aku juga tak ingin merusak persahabatanmu dengan Ervan dan hubunganmu dengan Desti. Aku ingin bahagia tanpa membuat siapapun terluka.”
Kudengar kau menangis. Dan dengan susah payah pula, aku berusaha menyembunyikan tangisku. Begitu kurasakan kehilangan yang amat sangat. Melebihi kehilanganku yang selama ini pernah kurasakan. Aku sungguh membutuhkanmu, teman.
Mentari menepi di sisi awan.
Langit yang begitu sepi, hening, namun tetap terlihat sangat cerah. Air sungai mengalir, menyisakan riaknya yang bening terkena sinar mentari, berkemilau bagai pecahan puing kaca. Daun akasia yang beberapa bulan lalu hijau segar kini mulai kering dan menguning. Berjatuhan dibawa angin. Rumput-rumput di bawah pohon itu pun dikotori dengan daun-daun akasia kering. Semua begitu sunyi. Sunyi seperti biasa.
Seperti saat aku pertama datang ke tempat itu bersama teman-temanku semasa SMP.
Seperti saat aku pertama datang ke tempat itu bersamamu, temanku.
Seperti saat biasanya kita bermain di sana.
Seperti saat terakhir kali kita bermain di sana.
Tempat itu tetap sunyi dan damai.
Dan mungkin sampai kapan pun, sampai suatu saat kita ke sana lagi, andai kita masih diberi kesempatan untuk bertemu dan bermain, andai keajaiban Tuhan masih bisa kita dapatkan…
Bertemu denganmu adalah hal yang wajar. Berteman denganmu adalah hal yang menyenangkan. Pergi bermain berdua denganmu adalah hal terhebat. Dan berpisah denganmu sungguh menyakitkan.
Entah, apakah aku pernah memiliki hatimu, aku tak tahu pasti. Apakah aku pernah menjadi sahabat berharga bagimu, aku juga tak tahu. Dan pernahkah kau membangun mimpi-mimpi atas diriku, aku sama sekali tak tahu. Namun aku begitu merasa kehilangan. Artinya, meski hanya sekejap, aku mungkin sempat memilikimu. Sebagai teman berharga yang menemaniku menulis rangkaian cerita berharga. Menemaniku memekarkan perasaan yang sangat berharga. Dan mengajariku merasakan cinta yang berharga.
Hingga suatu saat, entah kapan…
Perasaan yang tak bisa diungkapkan, sehingga menerima hati yang lain. Namun hati masih sering bermimpi untuk terus bersama sahabat yang didambakan.
Ombak pantai Popoh yang mengantarkan kepiting-kepiting kecil sampai daratan lalu bersembunyi di balik lubang-lubang karang, desah angin yang membelai langkah-langkah kita dan cerita singkat yang terucap serta pelukan pertama yang kau berikan sebelum kita kembali pulang, mengakhiri kesenangan kita hari itu.
Kita mencoba merangkai cerita yang menyenangkan lagi lain hari.
Di atas riak air sungai, di bawah pohon akasia yang memekarkan bunga-bunga berwarna kuning menyala. Duduk berdua seperti orang tak punya kerjaan, tertawa dan bercerita bersama. Satu buah apel menjadi cemilan kita, satu buah apel yang kita gigit bergantian. Tak lupa mengabadikan saat-saat menyenangkan itu dengan berfoto berdua. Memory hand phone-mu pun penuh dengan foto-foto kita di tempat yang menyenangkan itu. Karena tempat itu bagi kita sangat menyenangkan, kita sampai menganggap bahwa itu adalah tempat milik kita berdua, dan siapapun orang yang datang atau lewat di tempat itu maka dia menyewanya dari kita. Pemikiran yang sangat lucu ya? Kau juga menuliskan nama kita di tempat itu.
Di sanalah tempat kita biasa datang berdua, bermain dan menjadi sahabat seutuhnya.
Saat itu aku merasa menemukan harta karun yang selama ini kucari.
Sahabat sejati.
Dan itu adalah kamu.
Dan karena aku telah menemukan sahabat yang selama ini kuinginkan,
aku bertekad, aku juga akan menjadi sahabat sejati untukmu. Aku akan
selalu bersamamu dan menemanimu.
Tapi, aku merasa hanya bisa bersamamu dalam waktu yang tak lama. Kita jarang bertemu, dan jarang sekali bisa bermain. Kau sudah punya pacar yang selalu di dekatmu, kau dikelilingi teman-teman yang menyayangimu dan terlihat jauh denganku, kau tidak kesepian sepertiku.
Sehingga, aku pun akhirnya hanya akan menjadi teman biasa bagimu.
Tapi tak apa. Bagiku kau tetap sahabatku.
Angin membelai hatiku…
Mengantarkan sebuah perasaan yang sangat mendamaikan. Perasaan yang akan menjadi indah saat kau ada di sampingku, perasaan yang menjadi hangat saat kau menanyakan kabarku, perasaan yang menjadi hebat saat kau mengatakan membutuhkanku dan merindukanku, serta perasaan yang perlahan menciptakan mimpi-mimpi di dalam anganku.
Aku menginginkanmu, teman…
Siang itu,
Aku ingin mengucapkan salam perpisahan untuk Ervan, setelah beberapa hari lalu aku sempat mengatakan ingin berpisah selamanya. Bagaimanapun Ervan tidak menginginkan perpisahan ini, aku tetap tidak bisa bersamanya. Aku pasti sangat menyakitinya…
Tapi… perasaan yang dulu pernah kukatakan padanya sebagai CINTA itu kini memudar. Pudar, bagai kumpulan awan yang dihempas angin bulan Oktober yang saat itu mulai mengantarkan musim hujan.
Entah, apa yang kufikirkan. Aku hanya merasakan ketenangan setelah hatiku kosong, tak ada seseorang atau cinta yang mengisi dan membebaninya. Seolah aku bebas dan bisa berjalan ke mana pun aku ingin.
Kebahagiaan dan ketenangan ini bertambah indah saat keajaiban Tuhan memberikanku waktu untuk bertemu denganmu dan pergi bermain berdua lagi. Bermain ke tempat kita. Di atas riak air sungai, di bawah pohon akasia yang memekarkan bunga-bunga berwarna kuning menyala. Dan rangkaian cerita sehari-hari menjadi isi pembicaraan kita. Sering pula kita berbicara tentang cinta, impian, keajaiban dan hal yang lucu lainnya.
Tapi SMS dari teman-temanmu yang lain yang juga sangat memperhatikanmu dan SMS dari Desti, pacarmu, kadang menghentikan cerita kita. Meski hanya sejenak, tapi… aku yang saat itu duduk di dekatmu merasakan sedikit kehampaan. Hampa, seperti desiran angin yang berhembus entah ke mana.
Namun, sikapmu yang mengacuhkan SMS itu dan tetap melanjutkan cerita kita, serta tingkah anehmu saat berdekatan denganku, membuatku terpesona dan semakin suka berada di dekatmu. Aku suka melihat tanganmu yang bergetar saat hendak mengenggam tanganku. Aku suka kau menggandengku saat kita berjalan menyusuri sungai berbatu itu. Aku suka kau mau mengantarku pulang. Aku suka kau mau mengajakku bermain lain kali. Aku suka, aku suka, aku suka bersamamu. Aku suka padamu.
Dan perlahan senja beranjak di antara lelah dan bahagiaku.
Ingin kubawa kesenangan ini hingga kuterlelap dalam khayalku malam nanti.
Saat kutersadar bahwa aku menemukan kebahagiaanku darimu. Ingin kumenjaganya.
Cerita berharga masih terdengar begitu indah, mengalun di sela-sela awan yang berarak, mengikuti arah angin dan terbang membawa mimpi.
Luka di hati yang lain atas kedekatan kita, cemburu di hati dia dan dia atas perasaan kita, dan akhirnya mengoyak kebersamaan kita. Karena tak ingin merusak persahabatan kau dan Ervan, tak ingin melukai pacarmu, Desti, tak ingin semua hancur hanya karena perasaan bodoh kita, akhirnya kita memilih berpisah.
Sendu dan syahdu awan yang pekat di malam kelam, menemani hatiku yang bersedih, menemani hatimu yang menangis. Namun, ini yang terbaik, kita berpisah.
Kubayangkan kesedihan di hari nanti, tak ada SMS dan telephone darimu, tak ada kabur dari kenyataan dan bermain berdua, tak ada cerita-cerita lucu yang kudengar saat bersamamu, tak ada temanku bertukar foto dan biodata, tak ada keindahan di tempat kita, tak ada kamu yang mengisi hari-hariku. Apa aku sanggup? Sanggup berpisah dengan sahabat sepertimu… Sahabat yang sangat kusayangi…
Entah dari mana dan sejak kapan datangnya perasaan ini, begitu aku terlelap dalam khayalku bayangan bersamamulah yang tergambar. Meski tak begitu kupahami namun aku pun merasakan, mungkin aku telah jatuh cinta.
Mencintaimu…
Derai malam pun turun begitu pekat.
Derai air mataku mengalir membasuh hati. Mengingat kau tak lagi bersamaku.
Cinta putih yang kau berikan namun tak sempat kau ucapkan, mengisi penyesalanku, mengapa kau tak lebih cepat datang dalam kehidupanku, sehingga aku tak perlu sempat menjalani hubungan dengan Ervan. Mengapa kau menerima Desti sebagai pacarmu tanpa bertanya padaku apakah aku setuju. Mengapa kau tak pernah bertanya, apa aku menyukaimu.
Padahal perasaan itu begitu jelas bagi kita, tapi seolah terkubur dalam.
Dikubur dalam-dalam oleh takdir yang seolah memainkan kita dalam lingkaran perasaan yang tak menentu.
Kudengar suaramu yang menelphoneku malam itu. Aku berfikir, mungkinkah ini yang terakhir aku mendengar suaramu. Teman, saat itu kau mengatakan, “ Aku tak sanggup, aku tak bisa berpisah darimu. Aku cinta kamu, Gris. Belum pernah aku jatuh cinta sampai seperti ini. Dari dulu, sejak aku mengenalmu aku sudah menyukaimu…”
Dan dengan berat hati, aku hanya mengatakan, “ Tapi kita tidak boleh menyakiti orang lain. Aku juga tak ingin merusak persahabatanmu dengan Ervan dan hubunganmu dengan Desti. Aku ingin bahagia tanpa membuat siapapun terluka.”
Kudengar kau menangis. Dan dengan susah payah pula, aku berusaha menyembunyikan tangisku. Begitu kurasakan kehilangan yang amat sangat. Melebihi kehilanganku yang selama ini pernah kurasakan. Aku sungguh membutuhkanmu, teman.
Mentari menepi di sisi awan.
Langit yang begitu sepi, hening, namun tetap terlihat sangat cerah. Air sungai mengalir, menyisakan riaknya yang bening terkena sinar mentari, berkemilau bagai pecahan puing kaca. Daun akasia yang beberapa bulan lalu hijau segar kini mulai kering dan menguning. Berjatuhan dibawa angin. Rumput-rumput di bawah pohon itu pun dikotori dengan daun-daun akasia kering. Semua begitu sunyi. Sunyi seperti biasa.
Seperti saat aku pertama datang ke tempat itu bersama teman-temanku semasa SMP.
Seperti saat aku pertama datang ke tempat itu bersamamu, temanku.
Seperti saat biasanya kita bermain di sana.
Seperti saat terakhir kali kita bermain di sana.
Tempat itu tetap sunyi dan damai.
Dan mungkin sampai kapan pun, sampai suatu saat kita ke sana lagi, andai kita masih diberi kesempatan untuk bertemu dan bermain, andai keajaiban Tuhan masih bisa kita dapatkan…
Bertemu denganmu adalah hal yang wajar. Berteman denganmu adalah hal yang menyenangkan. Pergi bermain berdua denganmu adalah hal terhebat. Dan berpisah denganmu sungguh menyakitkan.
Entah, apakah aku pernah memiliki hatimu, aku tak tahu pasti. Apakah aku pernah menjadi sahabat berharga bagimu, aku juga tak tahu. Dan pernahkah kau membangun mimpi-mimpi atas diriku, aku sama sekali tak tahu. Namun aku begitu merasa kehilangan. Artinya, meski hanya sekejap, aku mungkin sempat memilikimu. Sebagai teman berharga yang menemaniku menulis rangkaian cerita berharga. Menemaniku memekarkan perasaan yang sangat berharga. Dan mengajariku merasakan cinta yang berharga.
Hingga suatu saat, entah kapan…
Cahaya yang dulu ada
Berkas cahaya yang tak pernah memudar
Memeluk hatiku dengan bayangan samarnya
Sejenak mengusap hangat kabut beku di wajahku
Sebentar pula menyanyikan mimpi yang tak begitu panjang
Namun begitu kurasakan kedamaian itu di genggamanku
Tentu saja... Saat aku masih bisa menggenggamnya
Aku bukan gelas kaca
Yang akan remuk berpuing setelah dipukul dan jatuh
Karena kakiku masih mampu berdiri bahkan melangkah
Karena mataku masih melihat berkas cahaya itu
Dan telingaku masih mendengar nyanyian mimpinya untukku
Mana mungkin begitu saja kulupakan,
Sedangkan akar perasaan dan kisah ini terlalu dalam tertanam
Dari jauh
Samar-samar tak kulihat
Bahwa akhirnya akan kupeluk sendiri tangisku
Dan kulepas cahaya itu mengalun jauh dari tatapan mata
Biar bersinar dalam dunianya, biar ia tenang
Dan akan kupasang senyum di bibir yang diam
Mungkin akan terlihat sebagai bahagia
Terbanglah, wahai pasir... Kau bebas pergi ke manapun kau mau
Ikuti tarian angin...bersama butiran pasir-pasir lain
Lihat langit biru dengan hiasan awan lembut
Dengar gemerisik rumput yang dibasahi embun
Dan uraikan senyuman di bawah terik hangat
Ceritakan kisah yang lucu bersama butiran pasir-pasir lain
Sesungguhnya, aku ingin sepertimu...
Namun aku adalah batu yang digenggam tangan
Permata usang yang tak tersentuh udara
Mencoba mengintip dari sela waktu
Hingga berkas cahaya itu jatuh menyentuh hidupku
Hangat, terang, dan membakar
Aku yang berdebu ini pun terlihat berkilauan karenanya
Aku merasa sehebat dirimu, pasir
Dapat merasakan hempasan angin
Duduk di hamparan rumput dan berbagi kisah yang lucu
Cahaya itu telah menyelimutiku dengan
Hangat, terang, dan membakar
Rindu akan kehadiran cahaya itu pun menjadi perasaan yang tak pernah hilang
Mimpi untuk selalu tersentuh cahaya itu pun menjadi doa yang kualunkan
Setiap saat
Setiap waktu
Cahaya itu... kuharapkan
Cahaya itu... kuimpikan
Tak mau kulepaskan
Sepi
Sepi dan sendiri aku benci
Digenggam bagai batu kecil yang bisa dilempar ke manapun sesuka hati
Seolah aku hanya bisa mengikuti gerak tangan dan arah lemparan itu
Tiap kali mencoba meronta
Genggaman itu semakin kuat
Melindungi, menjaga, menjerat dan meremukkan
Aku terlihat seperti permata yang ditimang
Tapi jiwaku adalah batu usang yang berlumut
Langit malam yang bertabur mimpi
Seindah mimpi yang kau berikan, cahayaku
Akankah kau juga akan menjadi mimpi bagiku
Dan tenggelam saat mentari membawaku ke dunia nyata
Tubuh ini terduduk lemah tak berkuasa
Air mata ini adalah pengiring doa
Dengan tangis di bawah sujudku
Bahwa keajaiban mungkin tak selamanya datang menghampiri
Aku tak punya sayap untuk terbang menghampiri Tuhan
Hanya kuyakin, permohonan ini pasti didengarNya
Dan aku meminta
Dekatkan cahaya itu padaku
Belai jiwa lelah ini, cahayaku
Aku batu kecil yang merindukan kehangatanmu
Bawa senyumanku dan pancarkan ke awan
Agar semua tahu
Aku bahagia bersamamu
Langganan:
Postingan (Atom)