Berkas cahaya yang tak pernah memudar
Memeluk hatiku dengan bayangan samarnya
Sejenak mengusap hangat kabut beku di wajahku
Sebentar pula menyanyikan mimpi yang tak begitu panjang
Namun begitu kurasakan kedamaian itu di genggamanku
Tentu saja... Saat aku masih bisa menggenggamnya
Aku bukan gelas kaca
Yang akan remuk berpuing setelah dipukul dan jatuh
Karena kakiku masih mampu berdiri bahkan melangkah
Karena mataku masih melihat berkas cahaya itu
Dan telingaku masih mendengar nyanyian mimpinya untukku
Mana mungkin begitu saja kulupakan,
Sedangkan akar perasaan dan kisah ini terlalu dalam tertanam
Dari jauh
Samar-samar tak kulihat
Bahwa akhirnya akan kupeluk sendiri tangisku
Dan kulepas cahaya itu mengalun jauh dari tatapan mata
Biar bersinar dalam dunianya, biar ia tenang
Dan akan kupasang senyum di bibir yang diam
Mungkin akan terlihat sebagai bahagia
Terbanglah, wahai pasir... Kau bebas pergi ke manapun kau mau
Ikuti tarian angin...bersama butiran pasir-pasir lain
Lihat langit biru dengan hiasan awan lembut
Dengar gemerisik rumput yang dibasahi embun
Dan uraikan senyuman di bawah terik hangat
Ceritakan kisah yang lucu bersama butiran pasir-pasir lain
Sesungguhnya, aku ingin sepertimu...
Namun aku adalah batu yang digenggam tangan
Permata usang yang tak tersentuh udara
Mencoba mengintip dari sela waktu
Hingga berkas cahaya itu jatuh menyentuh hidupku
Hangat, terang, dan membakar
Aku yang berdebu ini pun terlihat berkilauan karenanya
Aku merasa sehebat dirimu, pasir
Dapat merasakan hempasan angin
Duduk di hamparan rumput dan berbagi kisah yang lucu
Cahaya itu telah menyelimutiku dengan
Hangat, terang, dan membakar
Rindu akan kehadiran cahaya itu pun menjadi perasaan yang tak pernah hilang
Mimpi untuk selalu tersentuh cahaya itu pun menjadi doa yang kualunkan
Setiap saat
Setiap waktu
Cahaya itu... kuharapkan
Cahaya itu... kuimpikan
Tak mau kulepaskan
Sepi
Sepi dan sendiri aku benci
Digenggam bagai batu kecil yang bisa dilempar ke manapun sesuka hati
Seolah aku hanya bisa mengikuti gerak tangan dan arah lemparan itu
Tiap kali mencoba meronta
Genggaman itu semakin kuat
Melindungi, menjaga, menjerat dan meremukkan
Aku terlihat seperti permata yang ditimang
Tapi jiwaku adalah batu usang yang berlumut
Langit malam yang bertabur mimpi
Seindah mimpi yang kau berikan, cahayaku
Akankah kau juga akan menjadi mimpi bagiku
Dan tenggelam saat mentari membawaku ke dunia nyata
Tubuh ini terduduk lemah tak berkuasa
Air mata ini adalah pengiring doa
Dengan tangis di bawah sujudku
Bahwa keajaiban mungkin tak selamanya datang menghampiri
Aku tak punya sayap untuk terbang menghampiri Tuhan
Hanya kuyakin, permohonan ini pasti didengarNya
Dan aku meminta
Dekatkan cahaya itu padaku
Belai jiwa lelah ini, cahayaku
Aku batu kecil yang merindukan kehangatanmu
Bawa senyumanku dan pancarkan ke awan
Agar semua tahu
Aku bahagia bersamamu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar